IDNUSA, JAKARTA - Kekalahan pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat di putaran dua Pilkada DKI seolah telah terlihat sejak Rabu (19/4) pagi. Gelagat kekalahan itu, salah satunya terbaca dari pernyataan Presiden Joko Widodo setelah menggunakan hak pilih.

Jokowi menuturkan hal yang berbeda dengan pernyataannya pada putaran pertama. Kemarin Ia meminta seluruh pihak menerima dan menghargai hasil pemungutan suara.

"Apapun hasilnya, siapapun yang terpilih harus diterima secara lapang dada," ujar Jokowi di TPS IV Gambir.

Pakar Komunikasi Politik Universitas Mercu Buana Heri Budianto menilai ucapan Jokowi itu merupakan pertanda kekalahan Ahok. Menurutnya, Jokowi telah lebih dulu memperoleh prediksi presisi tentang hasil pencoblosan.

"Jokowi bisa saja mendapatkan informasi bahwa yang berpeluang menang adalah pasangan nomor urut tiga. Maka keluarlah pernyataan itu," ujar Heri kepada CNNIndonesia.com.

Heri berpendapat, Jokowi yang berpasangan dengan Ahok pada Pilkada DKI tahun 2012 tidak bersikap berlebihan atas gelagat kekalahan Ahok tersebut.

Sebaliknya, kata Heri, Jokowi menunjukkan netralitas sebagai kepala pemerintahan. Jokowi disebutnya meminta pemenang pilkada tidak jumawa sementara yang kalah berbesar hati.

"Pernyataan meneduhkan itu menunjukkan Jokowi sebagai kepala negara yang mengayomi," ujar Heri.

Apa yang diucapkan Jokowi itu seolah langsung dipatuhi oleh Ahok. Tak lama setelah hasil hitung cepat atau quick count diumumkan, Ahok menyatakan siap menerima kekalahan.

Dia bahkan menyatakan tak berniat mengajukan gugatan sengekta Pilkada DKI ke Mahkamah Konstitusi. "Tidak ada niat gugat," kata Ahok di Gedung Dewan Pimpinan Pusat Partai NasDem, Jakarta, Rabu (19/4).

Berdasarkan hitung cepat sejumlah lembaga jajak pendapat, Ahok-Djarot meraih suara yang berselisih 12 hingga 15 persen dari pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Lingkaran Survei Indonesia milik Denny JA mencatat Anies-Sandi memperoleh 55,41 persen, sedangkan Ahok-Djarot 44,59 persen.

Tiga lembaga survei lainnya juga mendapatkan hasil hitung cepat serupa. Saiful Mujani Resarch and Consulting menghitung, Anies-Sandi mendapatkan 58,06 persen, sementara Ahok-Djarot 41,94 persen.

Voxpol Center Research & Consulting menunjukkan, Anies-Sandi dapatkan 59,4 persen, sedangkan Ahok-Djarot 40,6 persen.

Adapun Polmark mencatat, Anies-Sandi dapatkan 57,56 persen, di atas Ahok-Djarot yang hanya peroleh 42,44 persen.
Sukai & Ikuti Fanpage
Loading...

💬 Komentar Anda

Memuat...

IDnusa Media

{picture#http://1.bp.blogspot.com/-RHuHKSh0jUg/WJomhwft6RI/AAAAAAABfRA/1TB6GUWhHNg1HQ3cuqhHvXgBJeFOV7-7wCK4B/s1600/IDNusa-Admin.png} Kecepatan, Ketepatan Pemberitaan, Selalu Memberitakan Kebenaran, Terhangat Serta Dapat Dipercaya dan Berimbang. {facebook#https://www.facebook.com/NMIndonesia/} {twitter#https://twitter.com/IDNusacom} {google#https://plus.google.com/u/0/+LihatDuluInfo} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UClUTCsbI_ubNlA4tD2zzTZw?sub_confirmation=1} {instagram#https://www.instagram.com/idnusacom/}