IDNUSA, JAKARTA - Novel masih bisa bersenda gurau meski belakangan hidupnya diwarnai ketegangan demi ketegangan. Termasuk diancam akan ditembak karena menjalankan tugasnya.
"Hayo, dimakan dulu." Suara Rina Emilda, istri Novel Baswedan memutus obrolan kami. Dia datang membawa nampan berisi empat gelas air putih dan roti canai yang masih mengepulkan harum. "Kalau tidak ada roti canai, dia (Novel) tidak bisa tidur," kata Emilda tersenyum.

Malam itu Novel baru saja pulang kerja. Pria 38 tahun itu hendak menyandarkan tubuhnya di kursi ketika Yandi Mohammad dan Heru Triyono dari Beritagar.id bertamu ke rumahnya di Jalan Deposito, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin lalu (21/12/2015), untuk wawancara.

Ruang tamu di rumah tipe 42 itu layaknya toko. Ada maneken, kaca besar, dan contoh-contoh baju muslim yang didesain sendiri oleh Emilda. "Butiknya sudah lama berjalan," kata penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini. Karena terbatasnya lahan, dia dan istri menyulap ruang tamu sebagai display baju-baju gamis itu.

Dengan kami, Novel masih bisa bersenda gurau meski belakangan hidupnya diwarnai ketegangan demi ketegangan. Dia bolak-balik ke Bengkulu mengurus pelimpahan berkas kasusnya ke Kejaksaan Tinggi Bengkulu. Sempat ditahan, namun dibebaskan karena adanya permohonan pembela serta pimpinan KPK.

Kasus yang membelitnya terjadi pada 2004, ketika Novel masih menjadi Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bengkulu. Dia dituduh menganiaya tersangka pencuri sarang burung walet, yang ditangkap anak buahnya.

Pada 2012, kasus mencuat kembali seiring pengusutan KPK dalam korupsi simulator surat izin mengemudi yang melibatkan Kepala Korps Lalu Lintas Polri, Inspektur Jenderal Djoko Susilo. Polisi tiba-tiba menetapkannya sebagai tersangka atas kasus yang terjadi 11 tahun lalu itu.

Sebentar mereda, awal tahun ini, polisi kembali mengungkit kasus Novel. Ini merupakan buntut ketegangan KPK-Polri, setelah komisi antirasuah menetapkan calon Kepala Polri pilihan Presiden Joko Widodo, Komisaris Jenderal Budi Gunawan, sebagai tersangka korupsi. Budi batal dilantik, tapi kasus Novel jalan terus.

Purnawirawan polisi ini memang punya reputasi sebagai penyidik kasus korupsi kelas kakap. Mulai dari melacak pelarian Nunun Nurbaetie, tersangka pemberi cek pelawat, lalu menjemput Muhammad Nazaruddin, yang lari ke Cartagena Kolombia, hingga menguak jual beli perkara pemilukada yang melibatkan Akil Mochtar, Ketua Mahkamah Konstitusi.

Selama satu jam setengah dia mengurai kejanggalan serta permainan yang sedang terjadi di balik kasusnya, sambil terkadang mengacungkan jari telunjuk ke atas. "Saya diancam ditembak," ujar Novel, mengenakan kemeja putih dan kalung pita hitam yang menggantung kartu identitas KPK di lehernya.

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan ketika ditemui Beritagar.id di kediamannya, Jalan Deposito, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin lalu (21/12/2015). © Heru Triyono /Beritagar.id


Temuan Ombudsman menyebutkan bahwa kasus dugaan penganiayaan yang disangkakan terhadap Anda adalah rekayasa...
Betul. Jika yang menemukan fakta itu adalah saya, kan tidak pas. Tapi yang melakukan investigasi ini adalah Ombudsman, pasti objektif. Saya ingin hasilnya (Ombudsman) dipertimbangkan Kejaksaan agar bisa melihat perkara saya secara utuh.

Apakah ada kewajiban Kejaksaan untuk mempertimbangkan hasil temuan Ombudsman tersebut?
Ombudsman ini lembaga resmi negara, ada unsur polisinya juga di sana. Rekomendasinya tidak bisa diabaikan. Dalam laporan juga disebutkan soal kewajiban melaksanakan rekomendasi itu, yang merupakan perintah undang-undang.

Seberapa kuat sebenarnya rekomendasi Ombudsman itu, apakah mempunyai kekuatan mengikat secara hukum? 
Begini. Mencuri itu tidak boleh, kenapa? Karena undang-undang menyatakan itu. Tapi kalau penegak hukumnya membiarkan orang mencuri, atau penegak hukumnya sendiri yang mencuri, kita mau ngomong apa? Rekomendasi itu bisa berjalan apabila para aparatur melakukan perintah undang-undang. Jika tidak, ini jadi masalah serius.

Pokok-pokok temuan Ombudsman adalah tentang bentuk-bentuk maladministrasi terkait kasus Anda. Salah satu ketidakberesan itu perihal laporan yang diajukan oleh Brigadir Yogi Hariyanto. Apa yang Anda ketahui tentang Yogi?
Oleh Pak Budi Waseso, Yogi disebut keluarga korban. Itu adalah kebohongan yang terang. Kenapa? Dia bukan keluarganya. Itu hasil temuan Ombudsman lho. Dan dia ini tidak masuk kualifikasi sebagai pelapor.

Karena Yogi tidak tahu sama sekali apa yang dilaporkannya ke polisi...
Memang dia tidak tahu. Dalam laporan, Yogi menyebut nama korbannya adalah Mulyana Johan (Aan), yang meninggal. Tapi keluarga Mulyana justru tidak merasa pernah melapor, tiba-tiba ada pelapor. Keluarganya justru bertanya-tanya.

Yang Anda maksud kualifikasi itu apakah karena Yogi tidak tahu apa yang terjadi?
Orang yang melapor harusnya mengetahui kejadian. Ketika 2004 (waktu kejadian) dia pun belum jadi polisi, dan tidak pernah tahu apa yang terjadi. Tapi disebutkan bahwa laporan Yogi ini adalah laporan model A, yang artinya laporan dari polisi sendiri yang mengetahui sebuah kejadian. Lalu bagaimana dia jadi pelapor model A, sementara ketika itu dia belum jadi polisi. Ini konyol. Kalaupun laporan dari masyarakat, harusnya laporannya adalah model B.

Mungkin saja Yogi berada dalam tekanan, termasuk polisi-polisi yang dijadikan saksi untuk kasus ini...
Ada memang yang cerita ke saya soal itu (tekanan). Mereka jelas lebih takut dengan polisi yang pangkatnya lebih tinggi, ketimbang dengan saya. Bisa saja mereka yang tidak taat dimutasi ke tempat lain, misalnya dipindah ke Lampung. Bagi anggota selevel bintara itu adalah kiamat kecil bagi keluarga.

Anda bisa memastikan pola tekanan seperti itu telah terjadi?
Ya atau tidak saya tidak tahu. Tapi informasi yang saya terima begitu adanya. Dan, bukan itu saja. Ada beberapa pejabat tinggi di Polda Bengkulu yang mengatakan bahwa ada dorongan dari Mabes Polri untuk menekan jaksa agar kasus ini dipercepat saja.

Bareskrim Mabes Polri saat sidang praperadilan mengajukan pistol jenis revolver milik Anda yang pelurunya bersarang di kaki salah satu korban bernama Erwansyah Siregar sebagai bukti. Bagaimana Anda menjelaskannya?
Ini yang saya sebut rekayasa. Awalnya saya dijerat Pasal 351 Ayat 3 KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana), bahwa ada suatu penganiayaan yang mengakibatkan orang mati. Tapi di pasal itu polisi tidak bisa menjerat saya, sehingga mereka ganti pasal, seperti disambung-sambungin.

Kemudian diganti, saya dijerat Pasal 351 Ayat 2 KUHP, bahwa yang dianiaya itu bukan Mulyana, tapi orang lain, yaitu Erwansyah Siregar, yang didapati luka berat. Di situlah senjata saya dikait-kaitkan. Mereka (polisi) bingung, karena tidak bisa membuktikan, namun justru membikin-bikin buktinya. Ini apa-apaan, masa bukti begini diuji di pengadilan, sama saja sesat.

Anda bicara begitu karena permohonan praperadilan yang diajukan September lalu di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan ditolak?
Saya tidak mau berprasangka buruk terhadap hakim. Hakim banyak yang baik, tapi situasinya tidak terbaca seperti itu. Sekarang Anda bayangkan: saksi polisi semua, ahlinya dari polisi, laboratorium juga di polisi. Terus kita mau bicara apa?

Ketika masih menjabat Kasat Reskrim Polres Bengkulu itu Anda mendapat teguran keras karena kasus itu. Bagaimana ceritanya?
Ketika pertama kali masuk Bengkulu, semangat saya adalah memerangi kejahatan serius: judi dan narkoba. Intinya saya melakukan hal yang tidak lazim ketika itu, karena banyak oknum polisi yang jadi beking, sehingga saya dimusuhi.

Nah, ketika peristiwa itu (penembakan pencuri sarang burung walet) terjadi, ada gelagat menyalahkan anggota saya. Ini tidak fair, karena ada anggota di luar reskrim (reserse dan kriminal) yang terlibat peristiwa itu. Saat itu saya ambil alih tanggung jawab. Saya bilang, kalau mau hukum, hukum saja saya. Makanya kemudian saya diberikan sanksi teguran keras.

Kenapa Anda tidak mengeluarkan senjata? Sebagai polisi kan wajar jika situasinya memang memaksa. 
Ketika 2004 itu istri saya sedang hamil 8 bulan. Dalam dunia polisi, saat istri hamil, amat tabu menembak orang. Kalapun saya berniat menembak, pasti anggota saya melarang, karena persoalan tabu itu.

Ketika kasus ini mencuat lagi pada 2012 Anda tidak hanya ditegur keras, tapi juga dihukum 7 hari masa tahanan?
Saya heran. Padahal surat hukuman teguran keras saya pegang yang aslinya. Ini sebagai bukti di pengadilan nanti.

Anda menjamin surat itu asli, bisa saja dipalsukan?
Setiap hukuman dan penghargaan yang diterima polisi itu ada buku laporannya. Di situ dicatat riwayat perjalanan karir seorang polisi. Jadi setiap purna tugas, buku itu akan digaris dan ditandatangani oleh kepala kesatuan. Di situ tertulis bahwa hukuman saya ditegur keras, bukan ditahan 7 hari. Saya tidak mungkin memalsukan tanda tangan pejabat, karena yang tanda tangan banyak.

Banyak sekali dukungan publik, bahkan ada petisi untuk mendesak pembebasan Anda. Meski begitu toh polisi jalan terus...
Saya juga bingung kok se-ndablek ini. Perlu diingat, Pak Budi Waseso pernah bilang bahwa ini perkara ringan, levelnya polsek (kecamatan). Saya tanya, biaya perkara ringan itu berapa? Oke, jika perkara ini perkara dinilai sedang pun maka biaya dari negara juga tidak sampai Rp7 juta.

Tapi, kasus saya ini sudah berapa biaya yang dikeluarkan. Biaya pesawat sendiri, hotel, serta tim yang dibentuk. Kalau saya hitung sudah mencapai Rp200 juta. Ini duit siapa? Sederhana saja pertanyaannya. Apa uang negara yang dibuang-buang?

Anda melihat ada agenda tersembunyi di balik kasus ini?
Saya melihatnya begitu.

Agenda siapa?
Saya susah menyampaikan, karena saya akan dituntut untuk membuktikan.

Apakah orang ini adalah orang berpengaruh?
Pasti dong, dan dugaan saya dia banyak duit.

Politisi atau pengusaha...
Jangan mengerucut.

Dugaan itu hanya terkaan Anda saja atau...
Ini bukan hanya terkaan. Saya diberitahu orang, seorang anggota Polri.

Agenda ini memiliki target yang lebih besar? Semisal pelemahan KPK.
Pesan agenda itu menurut saya begini: "Nih lo lihat, kalau elu lawan gue, akan gue gituin. Presiden larang pun kita masih berani lho". Nah ini jadi efek domino. Bukan ke saya saja, tapi ke siapapun yang berani melawan kejahatan. Hal ini berpengaruh terhadap penegak hukum, bukan cuma polisi, tapi juga auditor, seperti di BPK (Badan Pemeriksa Keuangan), yang kerap melakukan investigasi.

Kalau Presiden saja sudah tidak bisa mengendalikan negara ini bagaimana nasib Anda...
Saya akan berlindung kepada Allah dari ancaman-ancaman yang datang.

Kapan ancaman-ancaman kepada Anda itu mulai dirasakan?
Awal-awal itu ketika saya menangani kasus yang terkait dengan mafia hitam. Saya pernah ingin ditabrak oleh seseorang. Tapi yang justru tertabrak adalah adik kelas, yang mirip dengan saya. Kakinya patah, kejadiannya terjadi di belakang kantor KPK.

Menurut Anda kecelakaan yang menimpa Anda Oktober lalu adalah skenario? (Mobil yang ditumpangi Novel Baswedan dan tim penyidik KPK serta BPKP masuk jurang di wilayah Nusa Tengara Barat (NTB) saat penyidikan kasus dugaan korupsi proyek e-KTP).
Wallahu a'lam (Novel menunjuk bekas luka di atas mata kanannya. Luka itu membelah alis tebalnya, tampak bekas 16 jahitan di sana). Saya sempat bertanya ke sopir, dan memintanya untuk gantian. Tapi dia tidak mau. Kondisi kendaraan saya anggap juga bagus (Kijang Innova). Tapi si sopir mengaku mengantuk. Kepala saya terbentur kaca depan saat mobil terperosok ke jurang.

Apakah Anda dan teman-teman penyidik KPK merasa takut ketika diancam?
Masa diancam kita kalah. Saya terakhir malah diancam akan ditembak. Saya bilang saya tidak takut. Tapi masalahnya bukan takut atau tidak. Tapi masalahnya negara ini hadir atau enggak. Karena mau sampai kapan kita takut.

Siapa yang mengatakan bahwa Anda akan ditembak?
Saya tidak bisa sebut, tidak enak.





Tahun lalu Anda resmi mengundurkan diri dari polisi. Anda tidak khawatir misalnya KPK bubar karena tidak dibutuhkan lagi, sehingga mata pencaharian Anda hilang?
Lho, rezeki itu Tuhan yang atur.

Kenapa sampai pada keputusan jadi purnawirawan polisi?
Hidup itu hanya sebentar. Saya ingin berbuat lebih banyak.

Tapi dengan menjadi polisi kan juga bisa berbuat banyak...
Saya sudah ajak dari level bawah sampai atas di polisi untuk berubah. Saya juga paham untuk berubah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi kalau tidak pernah dimulai dari langkah pertama, sudahlah, yang ada hanya omong kosong. Yang saya inginkan, polisi mengumumkan bahwa mereka mau berubah. Kalau tidak pernah mau bicara itu, artinya tidak ada niat sedikit pun berubah.

Anda dicap sebagai pengkhianat di milis polisi, benar?
Saya dengar begitu. Saya dulunya bagian milis itu, tapi dikeluarkan. Saya dapat cerita dari teman saja. Menurut saya itu adalah upaya provokasi agar saya dimusuhi.

Keputusan Anda mundur dari polisi tidak ditentang oleh keluarga atau kerabat?
Tidak. Tapi memang harus menjelaskan, keluarga istri saya keluarga besar Polri. Mertua dan adik ipar saya adalah polisi. Tapi mereka mendukung saya.

Apa pendapat Anies Baswedan (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan), sebagai sepupu Anda?
Pada dasarnya dia (Anies) mendukung. Dia bilang, lebih tahu yang mana yang benar.

Untuk mendukung, Anies bahkan sampai bilang Anda bersedia menyerahkan nyawa untuk perangi korupsi?
Kita harus total dalam melakukan segala sesuatu, tidak bisa setengah. Yakin saja mati sudah ditentukan Tuhan. Anda mau dikepung seribu pasukan pun kalau belum waktunya, mati maka tidak akan mati.

Hubungan darah Anda dengan Anies itu berasal dari Abdurrahman Baswedan atau AR Baswedan, yang merupakan jurnalis, diplomat dan juga sastrawan?
Kalau Abdurrahman itu adalah kakeknya Bang Anies. Kalau kakek saya adalah pedagang, yang merupakan saudara Abdurrahman. Jadi bapak saya sama bapak Bang Anies sepupuan.

Siapa sih yang memengaruhi ideologi Anda sehingga sedemikian idealis?
Ibu. Karena dia yang mendidik dengan disiplin dan kejujuran.

Sewaktu kecil pernah terpikir jadi penyidik?
Saya dulu berpikir akan jadi pengusaha. Sejak kelas 3 SMP saya sudah bekerja menjadi kuli dan memberi kursus matematika untuk anak-anak. Saat SMA saya merintis usaha dari nol, dengan membangun toko material yang menyediakan batako, beton, dan lain-lain.

Kemudian, kenapa jadi polisi?
Ketika remaja saya punya teman anak polisi. Teman saya itu bilang ke ibu agar saya daftar polisi. Ketika itu saya sudah diterima jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Bakat) di UNS (Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret). Waktu itu saya ragu ke Solo, karena pertimbangan biaya kos dan biaya hidup di sana. Dengan modal nekat saya daftar polisi, dan malah diterima, dengan tidak keluar uang sepeser pun.

Ngomong-ngomong, saat ini status Anda di KPK sebagai apa?
Masih pegawai tetap, dan sedang menangani kasus besar. Maaf tidak bisa saya sampaikan kasusnya, karena bisa menjadi bagian serangan kepada saya lagi. Pokoknya kasus itu besar, dari segi orangnya, jumlah kerugiannya dan dampaknya.

Oke. Apa pandangan Anda melihat pimpinan KPK baru, yang lebih mengutamakan pencegahan?
Masa saya komentar tentang pimpinan saya. He-he. Tapi begini, saya optimistis dengan mereka. Semoga saja mereka sadar bahwa pelemahan KPK belum berhenti. Kalau soal orientasi ke pencegahan atau penindakan, saya bilang harus simultan (bersamaan), karena keduanya penting. Kalau penindakan saja tidak ada pencegahan akan rugi. Tapi pencegahan saja, tanpa penindakan, saya jamin tidak akan jalan.

Bagaimana Anda mengatur waktu untuk keluarga dan hobi, sementara Anda sibuk melakukan penyidikan di KPK dan mengurus kasus yang menimpa Anda?
Saya masih bisa ajak istri dan empat anak saya ke taman jogging dekat rumah jika libur. Saya ini amat jarang ke mal, karena mal itu tidak mendidik. Kalau soal hobi, saya sudah tidak sempat lagi. Kalau dulu, saya masih sempat berlatih karate dan judo.

(bt)
Sukai & Ikuti Fanpage
Loading...

💬 Komentar Anda

Memuat...

IDnusa Media

{picture#http://1.bp.blogspot.com/-RHuHKSh0jUg/WJomhwft6RI/AAAAAAABfRA/1TB6GUWhHNg1HQ3cuqhHvXgBJeFOV7-7wCK4B/s1600/IDNusa-Admin.png} Kecepatan, Ketepatan Pemberitaan, Selalu Memberitakan Kebenaran, Terhangat Serta Dapat Dipercaya dan Berimbang. {facebook#https://www.facebook.com/NMIndonesia/} {twitter#https://twitter.com/IDNusacom} {google#https://plus.google.com/u/0/+LihatDuluInfo} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UClUTCsbI_ubNlA4tD2zzTZw?sub_confirmation=1} {instagram#https://www.instagram.com/idnusacom/}