MENTERI Pertahanan Amerika Serikat James Mattis, Rabu dinihari 12 April 2017 menggelar jumpa pers di Pentagon, Washington. Jumpa pers yang disiarkan langsung oleh televisi CNN International tersebut dimaksudkan untuk menjawab semua pertanyaan wartawan tentang alasan penyerangan dengan roket Tomahawk ke kota Holms, basis pertahanan tantara pemerintah Syria.

Serangan itu merupakan “tindakan pembalasan” terhadap Presiden Syria yang memerintahkan pasukannya untuk menjatuhkan bom kimia kepada penduduk sipil Syria, di kota Idlib.

Tulisan ini tidak akan mengutip kembali tanya jawab dalam jumpa pers tersebut. Tetapi mencoba memberikan gambaran apa dan bagaimana publik AS dibingungkan oleh serangan militer pasukannya  ke sebuah negara asing.

Dalam benak beberapa wartawan, istilah “tindakan pembalasan” yang digunakan pemerintah AS, tidak tepat sebab Syria tidak melakukan apa-apa terhadap Amerika atau warga AS.

Khusus yang terakhir ini, hampir semua penanya seperti tidak menemukan alasan yang kuat atas “tindakan pembalasaan” tersebut.

Kalaupun benar pemerintah Syria membunuh rakyatnya dengan cara menjatuhkan bom kimia, tindakan itu tak ada urusannya dengan kepentingan dalam negeri AS. Atau jika Syria harus dihukum, maka bukan AS yang patut menjadi jaksa, polisi dan hakim sekaligus.

Begitu pula mengapa tiba-tiba Presiden Donald Trump ingin “menyelesaikan” persoalan senjata nuklir dengan Korea Utara, tanpa melibatkan lagi peran Tiongkok atau  RRT. Tiongkok selama ini merupakan negara yang melindungi Korea Utara.

Ada apa, tiba-tiba kakek Donald Trump (70 tahun), tiba-tiba emosi terhadap Kim-Jong Un (33 tahun) ?

Ulasan ini juga tidak dimaksudkan membangunkan rasa antipati pada Amerika. Yang menjadi kepedulian, agenda AS untuk menguasai Syria dan menaklukan Korea, jika berhasil, bakal tidak berhenti di sana. Sebab sebelumnya AS sudah menginvasi Irak, mengobrak-abrik Afghanistan, Libya, bahkan 47 tahun lalu merusak Vietnam.

Semua negara yang diganggu AS itu kebetulan memiliki kesamaan dengan Indonesia. Baik dari segi lokasi (geopolitik), sumber daya alam dan nasinalisme.

Konsep dan strategi AS mengganggu negara-negara di atas, dimulai dengan pembentukan opini oleh media lokal dan iternasional. Mengusung kekuatan oposisi dengan janji-janji manis. Dari sini muncul konflik internal.

Saat ini pers Indnesia, sebagian besar sudah sangat “Americanized”. Media TV sangat senang menghadirkan debat yang akhirnya menciptakan permusuhan.

Liputan “live” tentang sengketa masyarakat melawan pemerintah, menjadi trending.

Survei pembentukan opini, ditiru habis-habisan dari Lembaga Survei ternama di AS, bernama Gallup Poll. Hasilnya Indonesia menjadi sebuah negara yang sedang “berprahara”.

Indonesia, tidak bisa dikatakan sebagai negara yang aman. Justru konflik internal sedang berjangkit ke mana-mana dan ada wilayah seperti Papua, yang ingin memisahkan diri dari bingkai negara kesatuan, menjadi faktor pengganggu keamanan.

Liputan soal ini pun marak di media dan menjadi mainan para elit yang ingin mempertahankan kekuasaan dan yang mau merebut kekuasaan.

Indonesia dibawah kepemimpinan Joko Widodo, dikesankan sebagai negara yang ingin mengembalikan nasionalisme. Dan nasionalisme digadang-gadang sebagai bagian dari ajaran Bung Karno. Baik nasionalisme maupun Bung Karno merupakan dua faktor yang sangat mendasar menjadi pembeda atau pemisah dari sistem politik liberal yang menjadi “agama” politik AS.

Tidak cukup dengan itu, Joko Widodo yang dilahirkan tahun 1961, disebut sebagai kader atau terindikasi anggota PKI, partai yang dibubarkan tahun `1966, setelah usaha kudetnya tahun 1965.

Pembaca yang tidak kritis tetap percaya seorang Joko Widodo yang berusia 4 tahun, sudah menjadi anggota PKI pada tahun 1965.

Ditambah denga situasi ekonomi yang belum pulih seluruhnya bahkan hutang luar negeri yang membengkak, Indonesia ibarat makanan, merupakan korban yang bisa dilahap dengan mudah.

Menjadikan Indonesia seperti Syria, Irak, Afghanistan, bukanlah persoalan yang sulit.

Akan lain situasinya jika Presiden Indonesia memiliki karakter seperti Rodrigo Duterte, Presiden Filipina.   Bekas Walikota Davao dan mantan pengacara ini, sekalipun oleh pers Amerika dijukuli sebagai seorang “presiden gila”, tetapi sikap kiritisnya terhadap AS, tetap disegani dan diperhitungkan oleh Washington.

Dalam kalkulasi matematika politik, AS akan terus mencari lahan baru di muka bumi, agar lahan itu  berada dalam pengaruh dan penguasaannya.  Dan jika perspektif ini benar, lahan baru berikutnya yang menjadi target berikutnya bisa jadi Indonesia.

Perhitungan ini didasarkan pada perkembangan terbaru.  Sejak beberapa tahun belakangan ini AS sudah mengepung Inddonesia dengan beberapa pangkalan militernya.

Tadinya hanya ada di Diego Garcia, Samudera Indonesia. Tapi kemudian ditambah dengan Darwin, Australia Utara dan Subic dan Clark di Filipina.

Ada sebuah kejadian kecil menarik yang berkaitan dengan keberadaan Pangkalan Militer AS di Samudera Indonesia. Tanggal 26 Maret 2017 lalu, sebuah pesawat militer AS yang menuju Okinawa, Jepang, mendarat darurat di Aceh. Kejadian ini memperlihatkan, Indonesia dalam jangkauan terbang yang dekat dengan Pangkalan Militer Diego Garcia.

Yang cukup mengejutkan – dalam konteks keberadaan Pangkalan Militer,  fasilitas reparasi Armada AS di Singapura, sudah berubah fungsinya. Sudah menjadi Pangkalan Militer Penuh dan terdekat dengan Indonesia.

Perubahan status ini terlihat dari laporan CNN pekan lalu. Bahwa armada perang yang dikirim AS ke Semenanjung Korea – untuk mengantisipasi perang dengan Korea Utara, berasal dari Pangkalan di Singapura.

Sekedar kepo, mengapa harus dari Singapura ?  Negara tetangga ini sendiri  dengan menghadirkan Pangkalan Militer AS di negaranya, jelas-jelas melanggar kesepakatan dalam ASEAN

AS sendiri punya pangkalan militer di Okinawa, Jepang, wilayah terdekat dengan Korea. Tapi mengapa tidak difungsikan untuk operasi di Semenanjung Korea ?

Apakah pengiriman armada dari Singapura sebagai bagian awal dari latihan ?

Perspektif inilah yang membangunkan kesadaran bahwa bukan mustahil Indonesia sedang dalam radar target AS sesudah Syria dan Korea Utara. (rmol)

Penulis merupakan wartawan senior 
Sukai & Ikuti Fanpage
Loading...

💬 Komentar Anda

Memuat...

IDnusa Media

{picture#http://1.bp.blogspot.com/-RHuHKSh0jUg/WJomhwft6RI/AAAAAAABfRA/1TB6GUWhHNg1HQ3cuqhHvXgBJeFOV7-7wCK4B/s1600/IDNusa-Admin.png} Kecepatan, Ketepatan Pemberitaan, Selalu Memberitakan Kebenaran, Terhangat Serta Dapat Dipercaya dan Berimbang. {facebook#https://www.facebook.com/NMIndonesia/} {twitter#https://twitter.com/IDNusacom} {google#https://plus.google.com/u/0/+LihatDuluInfo} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UClUTCsbI_ubNlA4tD2zzTZw?sub_confirmation=1} {instagram#https://www.instagram.com/idnusacom/}