IDNUSA, JAKARTA - Senator Jakarta, Fahira Idris menyesalkan video kampanye pasangan Ahok-Djarot bertajuk ‘Beragam itu Basuki-Djarot’. Video itu dianggap menebar ketakutan.

Menurut Fahira, video yang diklaim sebagai kampanye untuk mewujudkan semangat keberagaman dan toleransi, justru menebarkan pesan-pesan visual dan narasi yang mencoreng nilai dan makna keberagaman dan toleransi.

“Seharusnya setelah diberi gelar santri kehormatan dan sunan, Pak Ahok bisa lebih bijak, ternyata tidak,” sindir Fahira Idris melalui keterangan persnya.

Menurut Fahira, video kampanye Ahok tidak lebih dari sebuah bentuk kampanye yang menjual ketakutan untuk mempengaruhi publik agar terpaksa memilih calon yang menyebar video tersebut.

“Bagi saya video kampanye ini bentuk kepanikan dan keputusasaan Ahok dan tim kampanyenya menjelang hari H (pencoblosan),” jelas Fahira.

Menurtu Fahira, video kampanye itu dimunculkan setelah berbagai hasil survei menunjukkan Ahok-Djarot akan kalah, ditambah program-programnya yang kurang inovasi sehingga selalu meniru program Anies-Sandi.

“Ahok dan tim kampanye mengambil jalan pintas menebar ketakutan ke warga Jakarta sebagai senjata pemungkas. Ternyata senjata itu mengarah ke mereka sendiri,” imbuh Fahira.

Fahira mengungkapkan, video kampanye yang sempat diposting di akun sosial media pribadi Bentuki Tjahaja Purnama lalu kemudian dihapus ini, tidak lebih dari sebuah iklan penyerangan terhadap pesaing politiknya.

Selain itu, video tersebut juga merupakan penyerangan  terhadap suatu golongan tertentu yang dibungkus dengan propaganda dengan menyebar rumor meresahkan dan menakutkan.

Menurut dia, tujuan video kampanye itu jelas, yakni  mamaksa publik membenci seseorang atau golongan tertentu. Dalam konteks Pilkada, video seperti ini tujuannya agar publik memilih calon kepala daerah yang menebarkan propaganda ini.

“Bagi saya konten video ini sangat bahaya karena sudah mengarah kepada manipulasi psikologis yang dalam politik modern sudah dimuseumkan karena dianggap sebagai strategi yang kasar untuk meraih kemenangan dalam kompetisi politik,” tambah Fahira.

Semakin bahaya karena dalam video ini, lanjut Fahira, sangat jelas penuh prasangka, menstigma, melabelisasi, dan menggeneralisasi suatu golongan keyakinan tertentu sebagai biang kerusuhan.

Bahkan sangat jelas ada spanduk provokatif yang sangat tandensius yang memberi pesan bahwa kaum yang suka berpeci dan bersorban punya kebencian rasial luar biasa terhadap etnis tertentu.

“Biang konflik di dunia yang hingga saat ini tidak kunjung usai adalah prasangka, labelisasi, stigmatisasi, dan generalisasi suatu golongan terhadap golongan lain dan video ini menggambarkan itu semua,” katanya.

“Saya berharap, warga Jakarta tidak terprovokasi dan tidak perlu melihat video ini. Kita harus terus menjaga akal sehat kita, walau selama pilkada ini berbagai provokasi tak kunjung henti,” pungkas Fahira yang juga Wakil Ketua Komite III DPD ini. (ps)
Sukai & Ikuti Fanpage
Loading...

💬 Komentar Anda

Memuat...

IDnusa Media

{picture#http://1.bp.blogspot.com/-RHuHKSh0jUg/WJomhwft6RI/AAAAAAABfRA/1TB6GUWhHNg1HQ3cuqhHvXgBJeFOV7-7wCK4B/s1600/IDNusa-Admin.png} Kecepatan, Ketepatan Pemberitaan, Selalu Memberitakan Kebenaran, Terhangat Serta Dapat Dipercaya dan Berimbang. {facebook#https://www.facebook.com/NMIndonesia/} {twitter#https://twitter.com/IDNusacom} {google#https://plus.google.com/u/0/+LihatDuluInfo} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UClUTCsbI_ubNlA4tD2zzTZw?sub_confirmation=1} {instagram#https://www.instagram.com/idnusacom/}