IDNUSA, KENDARI - Tiga anak perwira polisi Ipda Matta (alm) nekat menggunggat ibu kandung mereka, Fahrani (51). Ketiganya ingin menguasai harta peninggalan sang ayah, Ipda Matta, berupa rumah, mobil, dan tanah. Padahal, sang ayah baru meninggal 28 Januari lalu.

Fariani hanya bisa berurai air mata. Warga Bau-bau Sulawesi Tenggara itu tidak habis pikir dengan prilaku anaknya. Di usianya yang sudah 51 tahun, ibu empat anak itu harus berurusan dengan hukum. Pedihnya lagi, yang memperkarakannya adalah tiga anak kandungnya, yakni AS (32), NS (30), dan PW (22).

“Saya sedih sekali, kecewa, dan malu. Kok anak yang saya lahirkan menggugat harta di saat saya masih hidup. Seberapa besar letak kesalahan sehingga anak saya tega menggugat,” ucap Fariani, Selasa (11/4/2017).

Awal perseteruan ibu dan tiga anak kandung itu terjadi saat Ipda Matta, suami dan ayah dari tiga anaknya itu, meninggal 28 Januari lalu.

Ketiga anaknya memang sudah berkeluarga dan tinggal di rumah sendiri. Mereka sepakat menggugat ibunya yang tinggal di rumah yang ditinggali bersama adik bungsu mereka, RP (11).

Fariani mengungkapkan, ketiga anaknya menggugat supaya bisa menguasai harta yang ditinggalkan suaminya. Harta tersebut berupa tanah, rumah, dan kendaraan.

“Tidak tahu, kesalahan apa yang saya lakukan sehingga dapat ujian seperti ini,” ungkap perempuan yang bekerja di Dinas Kesehatan Busel itu sembari menghapus air matanya.

Padahal, dia sudah punya rencana membagikan harta yang dikumpulkan bersama almarhum suaminya tersebut kepada empat anaknya. Namun, sebelum rencana itu terlaksana, ternyata anaknya punya pemikiran berbeda.

“Sudah pasti, saya tetap akan bagikan hak mereka. Menjual tanah dan rumah tidak semudah jual gula-gula. Tapi, mereka tidak sabar. Maunya yang jadinya saja,” ucapnya masih dengan nada sedih.

Walaupun kecewa, dia tetap akan mendoakan kebaikan buat ketiga anaknya. “Saya tetap doakan mereka bisa berubah dan sadar. Tidak ada ibu yang mendoakan anaknya yang buruk-buruk,” tuturnya.

Dikonfirmasi secara terpisah, Ketua Majelis Hakim Pengadilah Agama Baubau Mushlih membenarkan adanya gugatan anak terhadap ibu kandung soal harta warisan.

Gugatan itu teregistrasi dengan nomor perkara: 163/pdtg/2017/PA Baubau atas nama Arman Setiawan. Sidang pertama baru digelar Senin (10/4). Namun, sidang belum masuk pada agenda materi pokok perkara.

“Betul, ada gugatan antara anak dan ibu kandung yang masuk,” ujar Mushlih saat ditemui di PA Baubau Selasa (11/4).

Sidang, lanjut dia, dihadiri kedua pihak. Dengan begitu, sesuai Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016, perkara tersebut dimediasi dulu. “Kalau tidak ada titik temu, baru lanjut sidang ke pokok perkara,” jelasnya.

Lebih jauh Mushlih menjelaskan, harta yang digugat ketiga anak adalah tanah di Bombana, Kota Kendari, dan Baubau masing-masing 2 bidang. Kemudian 1 bidang tanah di Buton Selatan, 1 rumah di Kendari dan Baubau, 1 mobil Toyota Innova, 4 sepeda motor, serta uang Rp 1 miliar.

“Penggugat merasa punya hak sebagai ahli waris ayah kandungnya. Harta tersebut sekarang masih dikuasai ibu kandungnya,” terangnya.

Menurut dia, saat ini mediator mengupayakan adanya perdamaian kedua pihak. Hasil mediasi itu akan disampaikan di sidang pada Kamis (20/4) mendatang. (ps)
Sukai & Ikuti Fanpage
Loading...

💬 Komentar Anda

Memuat...

IDnusa Media

{picture#http://1.bp.blogspot.com/-RHuHKSh0jUg/WJomhwft6RI/AAAAAAABfRA/1TB6GUWhHNg1HQ3cuqhHvXgBJeFOV7-7wCK4B/s1600/IDNusa-Admin.png} Kecepatan, Ketepatan Pemberitaan, Selalu Memberitakan Kebenaran, Terhangat Serta Dapat Dipercaya dan Berimbang. {facebook#https://www.facebook.com/NMIndonesia/} {twitter#https://twitter.com/IDNusacom} {google#https://plus.google.com/u/0/+LihatDuluInfo} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UClUTCsbI_ubNlA4tD2zzTZw?sub_confirmation=1} {instagram#https://www.instagram.com/idnusacom/}